KOMPAS.com - Ada duo David di dalam kesebelasan Spanyol. Keduanya sama-sama pemain dengan tinggi badan yang bisa dikatakan kurang ideal untuk ukuran pesepak bola ”Benua Biru”, Eropa, yang biasanya tinggi besar dan kokoh bertenaga.
David pertama adalah David Villa (30), ujung tombak Barcelona asal Langreo. Dia sudah 82 kali bermain untuk ”La Fiola Roja” dan menyumbangkan 51 gol. Tingginya hanya 1,75 meter.
David kedua adalah David Silva (26), pemain lapangan tengah Manchester City asal Arguineguin. Dia sudah mempersembahkan 15 gol dari 55 penampilannya bersama tim Spanyol. Tingginya 1,70 meter.
Duo David asal Spanyol ini benar-benar merupakan pembunuh bagi ”Goliath”, penakluk tim lawan. Namun, Minggu (27/5) lalu, Vicente del Bosque, si arsitek ”La Fiola Roja”, harus berbesar hati karena kehilangan salah satu dari senjata mematikannya tersebut.
Villa tidak bisa dibawa serta ke Polandia-Ukraina karena mengalami cedera tulang kering yang berkepanjangan. Itu sebabnya Del Bosque langsung memasukkan nama Silva yang memiliki teknik dan permainan yang nyaris sama.
Tak ada pertimbangan rumit. Villa dan Silva sama-sama merupakan pemain sayap yang sangat agresif. Namun, Villa yang memiliki kecenderungan menyerang lebih banyak dijadikan ujung tombak di ”La Fiola Roja” bergantian dengan Fernando Torres (Chelsea) atau Pedro Rodriguez (Barcelona).
Sementara Silva yang lebih banyak menjadi pemain lapangan tengah kadang juga mampu keluar sebagai second striker. Itu sebabnya Del Bosque memberikan posisi Villa kepada Silva.
Selain Silva, hilangnya Villa juga membuat Del Bosque langsung menetapkan Alvaro Negredo, sang penyerang Sevilla, untuk menggantikan posisi penyerang murni dalam ”La Fiola Roja” yang diboyongnya ke Polandia-Ukraina dalam waktu dekat ini.
Berubah
Baik Silva maupun Villa sama-sama termasuk dalam ”Generasi Emas” Spanyol. Pada masa-masa mereka inilah sepak bola Spanyol berjaya, tidak hanya di pentas Eropa. Pada 2008, Spanyol menjadi juara Eropa. Pada saat generasi mereka ini pula Spanyol mampu menjadi negara Eropa pertama yang berhasil meraih Piala Dunia, saat digelar di luar Benua Eropa. Gelar jagat raya itu mereka raih di Afrika Selatan tahun 2010.
Itu sebabnya, tanpa Villa semuanya menjadi berubah. ”Ini merupakan situasi yang sama sekali baru. Saya juga belum tahu persis, apa yang akan terjadi dalam tim nasional tanpa Villa,” tutur Silva yang mampu membawa City menjadi juara Liga Primer Inggris 2012.
”Saya berharap kondisinya akan tetap sama. Sekalipun ’El Guaje’ (’Si Bocah’, julukan Villa) merupakan salah satu pemain kunci yang selalu mampu menciptakan gol,” ujar Silva memuji rekannya yang merupakan pencetak gol terbanyak di Piala Eropa 2008.
Silva menambahkan, dia dan rekan-rekannya yang merupakan ”Generasi Emas” Spanyol tidak hanya kehilangan Villa di lapangan. Tanpa Villa dari bangku cadangan pun sudah sebuah kehilangan besar.
Itu sebabnya, tutur Silva, dalam perubahan tim, mereka harus tetap bersabar. ”Karena tim lain yang tampil di Piala Eropa 2012 juga memiliki kekuatan yang sama baiknya.”
Setelah semua berada dalam satu permainan, kata Silva, yang juga memberikan Spanyol gelar juara dunia U-17 2003, ”Semuanya akan berjalan seperti biasa. Sekalipun kami sadar kalau penyesuaian itu tidaklah mudah untuk dicapai.”
Kini tinggal satu ”David” saja yang berada di lapangan. Namun, dia tidak sendiri. Masih ada rekan-rekan lainnya dari ”Generasi Emas” Spanyol yang siap menghadapi para ”Goliath” Piala Eropa 2012. Masihkah ”David” dari Spanyol bakal menaklukkan lawan? Kita tunggu saja aksi David Silva dan kawan-kawannya. (Korano Nicolash)
Source
No comments:
Post a Comment