Manchester - Manchester City
kini tahu bagaimana rasanya menjadi juara di injury time, seperti
Manchester United di Liga Champions 1999. Liga Inggris musim ini
berakhir sangat dramatis.
Sebelum kickoff pekan ke-38, Minggu
(13/5/2012) malam WIB, City sesungguhnya tidak besar-besar amat
peluangnya daripada MU. Mereka cuma unggul selisih gol, dan bisa
tersandung di pertandingan terakhirnya melawan Queens Park Rangers.
Kenyataannya,
itulah yang sempat terjadi. Ketika MU memimpin 1-0 di menit 20 atas
Sunderland di Stadium of Light, fans City mendadak berdebar-debar
sebelum Pablo Zabaleta melumerkan ketegangan itu lewat golnya ke gawang
QPR di menit 39. Mereka aman sampai turun minum.
Akan tetapi,
ketegangan itu muncul lagi saat babak kedua baru berjalan tiga menit.
Blunder Joleon Lescott dalam menghalau bola membuka jalan untuk Djibril
Cisse menjebol gawang Joe Hart. Skor berubah 1-1, MU pun dalam posisi
siap juara.
Harapan City sedikit membesar ketika gelandang QPR
Joey Barton dikartu merah di menit 55. Namun, alih-alih mencair,
ketegangan itu malah berubah menjadi kecemasan teramat sangat ketika
Jamie Mackie mengoptimalkan sebuah serangan balik QPR. Golnya di menit
66 membuat City kembali tertinggal, dan MU kembali dalam posisi siap
juara.
Manajer Roberto Mancini tak punya pilihan lain kecuali
menguras semua penyerang yang tersedia. Ia memasukkan Edin Dzeko dan
kemudian Mario Balotelli, walaupun juga menarik keluar Carlos Tevez yang
tampil kurang mengigit sebagai tandem Sergio Aguero.
Menit demi
menit berlalu, kecemasan fans City tak kunjung luntur, doa-doa suporter
MU terus dipanjatkan. Publik Etihad Stadium rupa-rupa ekspresinya. Ada
yang diam, menutup wajahnya berkali-kali, memegang terus kepalanya,
mulai menangis atau meluapkan ketidaksabaran dan kekesalannya. Sebagian
yang lebih positif tetap memberi yel-yel dukungan buat Vincent Kompany
dkk., bahwa pertandingan belum benar-benar selesai.
Mendekati
akhir masa normal babak kedua, ketika peluang City mungkin sudah jauh
mengecil, lahirlah pahlawan-pahlawan. Juga “nasib baik” bernama “waktu”,
karena ada tambahan lima menit. Di pinggir lapangan, Mancini sudah
tidak karu-karuan emosinya.
Dzeko, yang terpinggirkan sejak Tevez
dimaafkan Mancini dan kembali sering dimainkan, sedikit membuka harapan
melalui golnya di menit pertama
injury time. Cukup? Sama sekali tidak. Di seberang sana MU masih tetap unggul atas Sunderland. Saat itu kecemasan
The Citizens bercampur dengan harapan terakhir.
Pahlawan
kedua datang dari Argentina dalam sosok Kun Aguero. Di menit tambahan
keempat, memuncaki semua serangan yang tak henti-hentinya dialirkan City
ke jantung pertahanan lawan, Aguero mendapatkan celah itu. Dengan
sangat terampil ia mendobrak “parkiran bus” QPR dan menutupnya dengan
tendangan jarak dekat yang terlalu sulit dibendung kiper Paddy Kenny,
yang sesungguhnya sudah bermain sangat apik di bawah mistar gawang
timnya.
Bummm!! Etihad Stadium meledak sejadi-jadinya. Kali itu,
gol di penghujung waktu itu benar-benar cukup, lebih dari cukup buat
City menjadi pemenang dan juara.
“
Never, ever, ever seen anything like that in my life! Congratulations to Manchester City, Premier League Champions! “ tulis mantan kapten timnas Inggris Gary Lineker lewat akun twitter-nya.
“Itulah
yang membuat liga kami begitu hebat,” komentar manajer Tottenham
Hotspur, Harry Redknapp. “Saya sudah berpikir MU juara. Tapi apa yang
terjadi sungguh luar biasa. City yang menang.
Good luck buat mereka.
Di
akhir komentarnya itu Redknapp mengingatkan lagi apa yang sudah jadi
“hukum alam” dalam sepakbola. “Itulah sepakbola. Kita tak punya hak
untuk meramalkan kekalahan seseorang.”
Sir Alex Ferguson dan
barisan MU-nya tentu takkan membantah soal itu. Setidaknya mereka pernah
mengalami “keajaiban” ketika tatkala menjuarai Liga Champions musim
1998/1999.
Pada 26 Mei di Camp Nou, Barcelona, MU tertinggal dari
Bayern Munich sejak gol Mario Basler di menit keenam. Ketika dewi
fortuna seperti tidak berpihak pada mereka, semua orang kemudian
terperangah. Teddy Sheringham memulai drama itu dengan mencetak gol
penyama di menit pertama
injury time, dan semenit kemudian Ole
Gunnar Solskjaer menciptakan gol kedua yang membuat “Setan Merah”
tiba-tiba menang dan menjadi juara Eropa.
Maka dari itu, termasuk
dari pengalaman itu, Fergie memang tak punya alasan untuk tidak memberi
selamat pada City atas keberhasilan mereka menjadi juara lewat cara
yang sangat dramatis tersebut.
"Saya ingin mengatakannya atas
nama Manchester United, selamat bagi tetangga kami," ucapnya."Ini memang
akhir yang kejam. Tapi, saya sudah mengalaminya selama 25 tahun
terakhir. Ini juga merupakan musim yang dinamis."
Di akhir
episode, fans MU harus merelakan gelar yang mereka menangi musim lalu
itu, gelar yang sudah mereka koleksi sebanyak 19 kali, kali ini
berpindah ke klub terdekat dengan mereka itu. Malam ini dan besok kota
mereka pasti tidak keberatan bahwa kota Manchester dikuasai oleh
“tetangga yang berisik” itu.
Dan City, mereka sangat berhak untuk
“berisik” dan pantas merayakan apa yang baru saja mereka capai: titel
pertama dalam 44 tahun, atau gelar ketiga semenjak klub itu lahir di
tahun 1878.
Source