Thursday, May 31, 2012

Del Bosque Pusing dengan Nomor 9


 
 BERNE, KOMPAS.com - Spanyol sukses melibas Republik Korea 4-1, Rabu (30/5/2012). Namun, Vicente del Bosque masih belum dapat memutuskan satu masalah kecil namun krusial. Siapa yang pantas menjadi pemilik nomor sembilan kostum Spanyol?

Menurut media Spanyol Marca, Del Bosque punya waktu maksimal sepuluh hari sebelum laga pembuka melawan Italia, untuk memastikan siapa yang layak mendapatkan kostum bernomor keramat itu. Kandidatnya ada tiga bomber: Fernando Torres, Fernando Llorente, dan Alvaro Negredo.

Saat menumpas Korea, Del Bosque menampilkan Torres sebagai starter dan Negredo sebagai cadangan. Keduanya masing-masing sukses menyumbang satu gol. Tak ada nama Llorente dalam daftar pemain "La Furio Roja".

Apa yang didemonstrasikan Torres dan Negredo kemungkinan kandidat terkuat Del Bosque untuk memberikan kostum nomor sembilan.

Torres tampil demikian trengginas ketika melawan "Pasukan Negeri Ginseng". El Nino seperti punya motivasi lebih setelah tampil hanya dengan hitungan jari bersama Chelsea. Dan, hanya dalam tempo sebelas menit setelah kickoff Torres mengemas gol pembuka Spanyol.

Sementara Negredo masuk pada menit ke-56 dengan menggantikan Torres. Goleador Sevilla itu menutup kemenangan Spanyol. Gol itu sekaligus melengkapi koleksi keenamnya dalam sembilan partai "La Seleccion".

Nah, siapa pemilik nomor sembilan Spanyol sebenarnya, Del Bosque?
Source

Silva, Penakluk Para "Goliath"


 

KOMPAS.com - Ada duo David di dalam kesebelasan Spanyol. Keduanya sama-sama pemain dengan tinggi badan yang bisa dikatakan kurang ideal untuk ukuran pesepak bola ”Benua Biru”, Eropa, yang biasanya tinggi besar dan kokoh bertenaga.

David pertama adalah David Villa (30), ujung tombak Barcelona asal Langreo. Dia sudah 82 kali bermain untuk ”La Fiola Roja” dan menyumbangkan 51 gol. Tingginya hanya 1,75 meter.

David kedua adalah David Silva (26), pemain lapangan tengah Manchester City asal Arguineguin. Dia sudah mempersembahkan 15 gol dari 55 penampilannya bersama tim Spanyol. Tingginya 1,70 meter.

Duo David asal Spanyol ini benar-benar merupakan pembunuh bagi ”Goliath”, penakluk tim lawan. Namun, Minggu (27/5) lalu, Vicente del Bosque, si arsitek ”La Fiola Roja”, harus berbesar hati karena kehilangan salah satu dari senjata mematikannya tersebut.

Villa tidak bisa dibawa serta ke Polandia-Ukraina karena mengalami cedera tulang kering yang berkepanjangan. Itu sebabnya Del Bosque langsung memasukkan nama Silva yang memiliki teknik dan permainan yang nyaris sama.

Tak ada pertimbangan rumit. Villa dan Silva sama-sama merupakan pemain sayap yang sangat agresif. Namun, Villa yang memiliki kecenderungan menyerang lebih banyak dijadikan ujung tombak di ”La Fiola Roja” bergantian dengan Fernando Torres (Chelsea) atau Pedro Rodriguez (Barcelona).

Sementara Silva yang lebih banyak menjadi pemain lapangan tengah kadang juga mampu keluar sebagai second striker. Itu sebabnya Del Bosque memberikan posisi Villa kepada Silva.

Selain Silva, hilangnya Villa juga membuat Del Bosque langsung menetapkan Alvaro Negredo, sang penyerang Sevilla, untuk menggantikan posisi penyerang murni dalam ”La Fiola Roja” yang diboyongnya ke Polandia-Ukraina dalam waktu dekat ini.

Berubah


Baik Silva maupun Villa sama-sama termasuk dalam ”Generasi Emas” Spanyol. Pada masa-masa mereka inilah sepak bola Spanyol berjaya, tidak hanya di pentas Eropa. Pada 2008, Spanyol menjadi juara Eropa. Pada saat generasi mereka ini pula Spanyol mampu menjadi negara Eropa pertama yang berhasil meraih Piala Dunia, saat digelar di luar Benua Eropa. Gelar jagat raya itu mereka raih di Afrika Selatan tahun 2010.

Itu sebabnya, tanpa Villa semuanya menjadi berubah. ”Ini merupakan situasi yang sama sekali baru. Saya juga belum tahu persis, apa yang akan terjadi dalam tim nasional tanpa Villa,” tutur Silva yang mampu membawa City menjadi juara Liga Primer Inggris 2012.

”Saya berharap kondisinya akan tetap sama. Sekalipun ’El Guaje’ (’Si Bocah’, julukan Villa) merupakan salah satu pemain kunci yang selalu mampu menciptakan gol,” ujar Silva memuji rekannya yang merupakan pencetak gol terbanyak di Piala Eropa 2008.

Silva menambahkan, dia dan rekan-rekannya yang merupakan ”Generasi Emas” Spanyol tidak hanya kehilangan Villa di lapangan. Tanpa Villa dari bangku cadangan pun sudah sebuah kehilangan besar.

Itu sebabnya, tutur Silva, dalam perubahan tim, mereka harus tetap bersabar. ”Karena tim lain yang tampil di Piala Eropa 2012 juga memiliki kekuatan yang sama baiknya.”

Setelah semua berada dalam satu permainan, kata Silva, yang juga memberikan Spanyol gelar juara dunia U-17 2003, ”Semuanya akan berjalan seperti biasa. Sekalipun kami sadar kalau penyesuaian itu tidaklah mudah untuk dicapai.”

Kini tinggal satu ”David” saja yang berada di lapangan. Namun, dia tidak sendiri. Masih ada rekan-rekan lainnya dari ”Generasi Emas” Spanyol yang siap menghadapi para ”Goliath” Piala Eropa 2012. Masihkah ”David” dari Spanyol bakal menaklukkan lawan? Kita tunggu saja aksi David Silva dan kawan-kawannya. (Korano Nicolash)
Source

Tuesday, May 29, 2012

Klose Temukan 'Keluarga' Baru di Lazio


 
 
Basel - Meninggalkan Bayern Munich adalah sesuatu yang berat bagi Miroslav Klose. Namun, kesedihan striker internasional Jerman itu sirna setelah dia menemukan keluarga baru di Lazio.

Klose empat musim berbaju Bayern. Di Die Roten, dia sangat disegani, apalagi saat berduet dengan Luca Toni. Klose total mencetak 52 gol dan memenangi enam gelar bersama Bayern.

Namun, di penghujung musim 2010/2011, dia harus pergi dari Bayern. Karena tak tercapai kesepakatan perpanjangan kontrak, pemain berusia 33 tahun ini pun dipersilakan angkat kaki.

Lazio kemudian jadi pelabuhan baru Klose. Klose ternyata tak butuh waktu lama untuk beradaptasi di Gli Aquilotti. Torehan 16 gol tentu bukan hal yang buruk untuk musim pertama penyerang asing di Seri A.

"Meninggalkan Bayern Munich tentu saja bagaika meninggalkan keluarga saya. Namun, datang ke Lazio membuat saya harus bilang saya menemukan keluarga lainnya di sini," cetus Klose kepada WeltOnline.

"Saya sering harus menyamarkan diri saya ketika saya pergi keluar di jalan-jalan Roma sehingga fans tidak mengenali saya, karena mereka lebih bergairah," ungkapnya.

"Saya telah menemukan suasana yang sangat profesional yang juga santai dan tenang, tanpa tekanan yang berlebihan," kata pemain yang akan membela negaranya di Piala Eropa 2012 itu.
Source

Reina: Torres Siap Unjuk Gigi

 
 
Schruns - Dengan David Villa absen dalam Euro 2012, Fernando Torres niscaya akan jadi tumpuan Spanyol di lini depan. Kiper Spanyol Pepe Reina meyakini Torres takkan menyia-nyiakan kesempatan dan bakal menjawabnya dengan gol.

Villa dipastikan tak bisa memperkuat Spanyol dalam usaha mempertahankan gelar juara Eropa di Polandia-Ukraina musim panas ini, setelah ia tak bisa pulih tepat waktu dari cedera patah kaki.

Menilik skuad Spanyol yang dibawa ke Piala Eropa, tidak adanya Villa membuat Torres akan tampil jadi penyerang utama. Apalagi dengan 91 caps pemain asal klub Chelsea itu jauh lebih berpengalaman ketimbang pemain depan lain: Pedro Rodriguez (15 caps), Alvaro Negredo (8), dan Fernando Llorente (20).

Dengan 27 gol, Torres juga menjadi pemain timnas Spanyol tersubur yang masih aktif dan ada di skuad saat ini--Villa adalah top skorer sepanjang masa Spanyol dengan 51 gol.

Sebagian kalangan mungkin akan meragukan mampu-tidaknya Torres menjadi mesin gol 'Tim Matador' musim panas nanti. Tetapi Reina yakin mantan rekan seklubnya di Liverpool itu kini sedang dalam performa terbaik dan siap menebar ancaman ke gawang lawan.

"Sudah cukup lama semenjak aku melihatnya seperti ini. Secara fisik ia dalam kondisi baik. Secara mental ia yakin dirinya adalah figur penting di timnas, terlebih lagi sejak Villa absen, dan peran itu membuatnya bersemangat," kata Reina di BBC.

"Ia tampak nyaman dan penuh semangat. Semoga saja ia akan menjalani Piala Eropa dengan baik dan Spanyol akan diuntungkan dengan gol-golnya," lanjutnya.
Source

Monday, May 28, 2012

Istri Isyaratkan RVP Tetap di Arsenal



LONDON, KOMPAS.com — Teka-teki masa depan Robin van Persie di Arsenal belum juga diputuskan. Namun, istrinya, Bouchra, mengisyaratkan bahwa pemain berusia 28 tahun itu akan tetap berada di London pada musim depan. Bouchra mengatakan bahwa Arsenal memiliki jasa yang besar bagi karier suaminya.

"Arsenal menunjukkan kepercayaan kepada Robin ketika dia melalui waktu-waktu buruk sehingga kami tak bisa membalas mereka dengan berpikir tentang klub lain. Kami dan anak-anak kami hidup bahagia di London," ungkapnya seperti dilansir The Sun.

Isyarat yang cukup gamblang ini juga diperkuat oleh pernyataan ibunda Van Persie. Jose menyarankan putranya untuk tetap berada di Arsenal.

"Arsenal mencintainya dan itu insentif yang sangat baik untuk tetap berada di sini. Arsenal adalah klub yang fantastis. Mereka (Arsenal) tidak punya utang dan Robin diidolakan di sana," ujarnya menambahkan.

Kemungkinan besar pemain asal Belanda ini akan menuruti wejangan istri dan ibunya. Pasalnya, Van Persie telah mengungkapkan bahwa segala dukungan dan masukan dari ibunya selalu diperhatikannya.

"Dia (ibu) selalu mendorong saya untuk berpikir tentang diri saya. Selalu penting bagi saya untuk memperoleh pendapat ibu saya setelah pertandingan dan saya tak membantah disebut sebagai 'anak mama'," ungkap Van Persie.

Klub raksasa Spanyol, Barcelona, dan juara Italia, Juventus, telah menunjukkan ketertarikannya kepada peraih dua penghargaan pemain terbaik 2012 di Inggris ini. Namun, Manchester City memimpin perburuan kapten tim berjuluk "The Gunners" ini.

RVP membuka negosiasi dengan Pelatih Arsene Wenger dan Direktur Eksekutif Ivan Gazidis di London, pekan lalu. Arsenal menawarkan kepadanya kesepakatan gaji baru sebesar 130.000 pounds per pekan, ditambah bonus 5 juta pounds yang akan mengukuhkan dirinya sebagai pemain dengan bayaran tertinggi di klub.
Source

Ribery siap bersinar lagi untuk Prancis




Le Touquet, Prancis (ANTARA News) - Pemain tengah Franck Ribery mengatakan Senin, ia merasa seperti orang bebas setelah mencetak gol internasional pertama dalam tiga tahun ini, ketika memenangkan Prancis 3-2 pada laga persahabatan melawan Islandia.

Pemain berusia 29 tahun itu tidak dapat menunjukkan kemampuannya maksimal ketika berhadapan dengan klub raksasa Bundesliga Bayer Munich, tapi golnya pada menit ke-85 Senin membuat semangatnya bangkit lagi dalam menghadapi Euro 2012.

"Ini benar-benar mengangkat kembali semangat dan ambisi saya," kata kata Ribery, yang akan tampil dalam laga keempatnya di turnamen besar.

"Sudah tiga tahun lamanya sejak saya mencetak gol untuk Prancis. Rasanya sulit menilai diri sendiri, orang-orang banyak yang bertanya," katanya.

Ia melanjutkan, "Kemarin saya merasa benar-benar seperti orang bebas, amat gembira, amat puas. Tapi itu tidak mengejutkan bagi saya, karena apa yang saya lakukan itu sudah saya lakukan sepanjang waktu bersama Bayern. Saya tidak dapat melakukannya bersama Prancis, saya tidak tahu mengapa.

"Saya berharap kali ini saya berjalan lagi di jalur yang benar," katanya.

Ia menjelaskan, sebagian dari penyebabnya itu, ia merasa tidak mencintai negara aslinya.

"Belakangan ini bersama tim Prancis, saya tidak merasa santai, saya membiarkannya dan selalu dikritik," kata Ribery, yang mendapat sanjungan ketika menggantikan Yoan Gourcuff, yang diejek di lapangan, pada menit ke-75.

"Kini tiba waktunya untuk mempertanyakan kembali kepada diri sendiri apa yang harus dilakukan. Sudah lama sekali rasanya, sejak ketika nama saya dielu-elukan di stadion Prancis," katanya.

"Saya berharap pemicu itu datang lagi. Ketika publik meneriakkan nama saya, saya berharap rasa percaya diri saya bangkit lagi, untuk mencetak gol, untuk menggiring bola. Itu merupakan sesuatu yang hilang selama ini. Saya terlalu mencintai Bayern," katanya.

Ribery mengatakan, ia berusaha tidak mengingat kekalahan adu penalti final Liga Champions atas Chelsea yang lalu.

"Sekarang rasanya sudah agak enak. Memang sulit melupakannya dalam tiga atau empat hari karena itu merupakan kejadian amat gila. Kami melakukan pertandingan sempurna, kami di kandang sendiri, kami memiliki peluang tapi kami tidak mencetak gol. Amat disayangkan, padahal kami pantas mendapatkan gelar itu," katanya.

Ia menampik dugaan adanya semacam perasaan ia akan balas dendam terhadap Inggris, ketika Prancis melawan saingan bebuyutan mereka itu pada 11 Juni di Kejuaraan Eropa.

"Hal terpenting adalah mendapatkan tiga poin. Bermain lawan Inggris atau Ukraina, merupakan hal sama. Kami harus menang, itu pandangan yang amat sederhana," katanya. 

Source

Tuesday, May 15, 2012

Di Arsenal, Podolski Siap Main di Posisi Mana pun


 

Cologne - Lukas Podolski tak sabar untuk segera bergabung dengan rekan-rekan barunya di Arsenal. Penyerang internasional Jerman ini ingin sukses bersama The Gunners dan siap dipasang di posisi mana pun.

Podolski meninggalkan Cologne pada akhir musim ini untuk kemudian memperkuat Arsenal. Biaya transfer pemain berusia 26 tahun ini kabarnya mencapai 10 juta pounds.

"Saya menjalani musim yang sangat baik bersama Cologne. Saya bermain baik dan sebagai hasilnya saya akan berangkat ke Euro 2012 di musim panas dengan kepercayaan diri tinggi," seru Podolski di Sky Sports.

"Setelah itu, saya akan bergabung dengan rekan-rekan saya di Arsenal dan tujuan saya adalah melakukan yang terbaik dan sukses di sana," ungkapnya.

Belum diketahui di mana Arsene Wenger akan memasang Podolski, apakah sebagai penyerang tengah, penyerang sayap, atau di belakang penyerang utama. Podolski sendiri mengaku siap main di mana pun.

"Di Cologne, saya bermain sebagai penyerang tengah dan juga playmaker. Di tim nasional saya bermain melebar di sayap kiri. Sejujurnya saya tak memikirkan di mana saya bermain, asalkan masih di lini depan," tuturnya.

"Tapi, pelatih lah yang memutuskan di mana Anda bermain dan saya akan melakukan yang terbaik di mana pun saya bermain," kata pemain berdarah Polandia ini.
Source

Aguero Ingin Simpan Bola 'Juara'


 
 
Manchester - Setiap orang tentu ingin menyimpan benda yang punya nilai sejarah. Begitu juga dengan Sergio Aguero. Ia berhasrat bisa menyimpan bola yang dimasukkannya ke gawang Queens Park Rangers.

Di pertandingan pekan terakhir Liga Inggris akhir pekan lalu, Manchester City nyaris kehilangan gelar juara yang sudah di depan mata. Mereka ada di posisi tertinggal 1-2 dari QPR hingga laga memasuki menit ke-90. Sementara di tempat lain, Manchester United masih unggul 1-0 dari Sunderland.

Namun dua pemain muncul sebagai pahlawan City di masa injury time. Setelah Edin Dzeko mencetak gol penyeimbang, Aguero akhirnya mencetak gol ketiga City dan mengunci kemenangan 3-2 atas QPR.

Gol itu juga memastikan gelar juara Premier League musim 2011/2012 jatuh ke tangan The Citizens sekaligus mengakhiri penantian 44 tahun City. Aguero pun menyebut gol itu sebagai gol terpenting dalam kariernya.

"Bola jatuh di kaki saya dan pikiran saya saat itu adalah hanya langsung mencetak gol. Syukurlah bola tersebut masuk. Saya yakin itu adalah gol paling penting sepanjang karier saya," aku Aguero.

Sadar jika gol itu sangat berharga, Aguero pun ingin menyimpan bola yang ia masukkan ke gawang Paddy Kenny itu. Namun ia belum bisa melakukannya karena ia tak tahu ke mana bola itu pergi.

"Aku mencoba untuk menyimpan bolanya kalau bisa, tapi tidak saat ini. Aku tidak tahu ke mana bola itu akhirnya tapi aku punya sepatuku," sahut Aguero seperti dikutip The Sun.

"Aku akan menyimpannya dan tentu kausku. Tapi aku tidak tahu ke mana bolanya," lanjut pesepakbola yang juga menantu dari Diego Maradona itu.
Source

Tevez Bawa Spanduk Provokatif, City Minta Maaf


 

Manchester - Parade juara Manchester City di Kota Manchester ternyata menyisakan masalah. Gara-gara spanduk kontroversial yang dibentangkan Carlos Tevez, City sampai harus meminta maaf ke Sir Alex Ferguson.

Seperti diberitakan sebelumnya, City melakukan parade untuk merayakan keberhasilan mereka menjuarai Premier League. Parade itu sendiri dilaporkan dihadiri oleh ratusan ribu orang.

Dengan memakai bus berwarna biru muda dan beratap terbuka, seluruh pemain dan ofisial City berkeliling kota untuk mengarak trofi Premier League yang baru saja mereka rebut. Sementara itu, suporter yang memenuhi jalanan mengelu-elukan tim kesayangannya itu.

Di tengah-tengah parade itu, Tevez tertangkap kamera membentangkan sebuah spanduk yang isinya sangat provokatif. spanduk itu bertuliskan "RIP Fergie", merujuk kepada manajer Manchester United, Sir Alex Ferguson.

Tidak diketahui dari mana Tevez mendapatkan spanduk itu. Yang pasti, saat menaiki bus untuk memulai parade, pemain asal Argentina itu tidak membawanya. Spanduk itu diduga dia dapat dari salah satu suporter yang menonton parade.

Dilansir Soccernet, spanduk itu kemungkinan besar ditujukan untuk membalas ucapan Fergie yang sangat terkenal pada tahun 2009 silam. Saat itu, Fergie ditanya apakah akan tiba suatu waktu di mana City akan menjadi tim terkuat di Manchester dan dia menjawab "Tidak sepanjang hidup saya".

Tevez, yang pernah menjadi anak buah Fergie di MU pada periode 2007-2009, mengaku sama sekali tak bermaksud melecehkan mantan bosnya itu.

"Saya terbawa dalam kegembiraan saat ini dan saya tentu tidak bermaksud untuk tidak menghargai Sir Alex Ferguson, yang saya kagumi baik sebagai seorang pria maupun manajer," jelasnya.

Apapun alasan Tevez, City menilai tindakan pemainnya itu sebagai sesuatu yang tidak pantas. Mereka pun segera mengajukan permintaan maaf kepada Fergie.

"Pembuatan bahan-bahan itu sendiri sudah merupakan perbuatan tercela. Dan dengan menerima dan membentangkannya, Carlos sudah membuat kesalahan besar," demikian keterangan juru bicara CIty.

"Klub ingin menyampaikan permintaan maaf yang tulus kepada Sir Alex Ferguson dan Manchester United karena pelanggaran atau kerugian yang timbul."
Source

Sunday, May 13, 2012

Akhir Liga Inggris yang Sangat Dramatis


 
 
Manchester - Manchester City kini tahu bagaimana rasanya menjadi juara di injury time, seperti Manchester United di Liga Champions 1999. Liga Inggris musim ini berakhir sangat dramatis.

Sebelum kickoff pekan ke-38, Minggu (13/5/2012) malam WIB, City sesungguhnya tidak besar-besar amat peluangnya daripada MU. Mereka cuma unggul selisih gol, dan bisa tersandung di pertandingan terakhirnya melawan Queens Park Rangers.

Kenyataannya, itulah yang sempat terjadi. Ketika MU memimpin 1-0 di menit 20 atas Sunderland di Stadium of Light, fans City mendadak berdebar-debar sebelum Pablo Zabaleta melumerkan ketegangan itu lewat golnya ke gawang QPR di menit 39. Mereka aman sampai turun minum.

Akan tetapi, ketegangan itu muncul lagi saat babak kedua baru berjalan tiga menit. Blunder Joleon Lescott dalam menghalau bola membuka jalan untuk Djibril Cisse menjebol gawang Joe Hart. Skor berubah 1-1, MU pun dalam posisi siap juara.

Harapan City sedikit membesar ketika gelandang QPR Joey Barton dikartu merah di menit 55. Namun, alih-alih mencair, ketegangan itu malah berubah menjadi kecemasan teramat sangat ketika Jamie Mackie mengoptimalkan sebuah serangan balik QPR. Golnya di menit 66 membuat City kembali tertinggal, dan MU kembali dalam posisi siap juara.

Manajer Roberto Mancini tak punya pilihan lain kecuali menguras semua penyerang yang tersedia. Ia memasukkan Edin Dzeko dan kemudian Mario Balotelli, walaupun juga menarik keluar Carlos Tevez yang tampil kurang mengigit sebagai tandem Sergio Aguero.

Menit demi menit berlalu, kecemasan fans City tak kunjung luntur, doa-doa suporter MU terus dipanjatkan. Publik Etihad Stadium rupa-rupa ekspresinya. Ada yang diam, menutup wajahnya berkali-kali, memegang terus kepalanya, mulai menangis atau meluapkan ketidaksabaran dan kekesalannya. Sebagian yang lebih positif tetap memberi yel-yel dukungan buat Vincent Kompany dkk., bahwa pertandingan belum benar-benar selesai.

Mendekati akhir masa normal babak kedua, ketika peluang City mungkin sudah jauh mengecil, lahirlah pahlawan-pahlawan. Juga “nasib baik” bernama “waktu”, karena ada tambahan lima menit. Di pinggir lapangan, Mancini sudah tidak karu-karuan emosinya.

Dzeko, yang terpinggirkan sejak Tevez dimaafkan Mancini dan kembali sering dimainkan, sedikit membuka harapan melalui golnya di menit pertama injury time. Cukup? Sama sekali tidak. Di seberang sana MU masih tetap unggul atas Sunderland. Saat itu kecemasan The Citizens bercampur dengan harapan terakhir.

Pahlawan kedua datang dari Argentina dalam sosok Kun Aguero. Di menit tambahan keempat, memuncaki semua serangan yang tak henti-hentinya dialirkan City ke jantung pertahanan lawan, Aguero mendapatkan celah itu. Dengan sangat terampil ia mendobrak “parkiran bus” QPR dan menutupnya dengan tendangan jarak dekat yang terlalu sulit dibendung kiper Paddy Kenny, yang sesungguhnya sudah bermain sangat apik di bawah mistar gawang timnya.

Bummm!! Etihad Stadium meledak sejadi-jadinya. Kali itu, gol di penghujung waktu itu benar-benar cukup, lebih dari cukup buat City menjadi pemenang dan juara.

Never, ever, ever seen anything like that in my life! Congratulations to Manchester City, Premier League Champions! “ tulis mantan kapten timnas Inggris Gary Lineker lewat akun twitter-nya.

“Itulah yang membuat liga kami begitu hebat,” komentar manajer Tottenham Hotspur, Harry Redknapp. “Saya sudah berpikir MU juara. Tapi apa yang terjadi sungguh luar biasa. City yang menang. Good luck buat mereka.

Di akhir komentarnya itu Redknapp mengingatkan lagi apa yang sudah jadi “hukum alam” dalam sepakbola. “Itulah sepakbola. Kita tak punya hak untuk meramalkan kekalahan seseorang.”

Sir Alex Ferguson dan barisan MU-nya tentu takkan membantah soal itu. Setidaknya mereka pernah mengalami “keajaiban” ketika tatkala menjuarai Liga Champions musim 1998/1999.

Pada 26 Mei di Camp Nou, Barcelona, MU tertinggal dari Bayern Munich sejak gol Mario Basler di menit keenam. Ketika dewi fortuna seperti tidak berpihak pada mereka, semua orang kemudian terperangah. Teddy Sheringham memulai drama itu dengan mencetak gol penyama di menit pertama injury time, dan semenit kemudian Ole Gunnar Solskjaer menciptakan gol kedua yang membuat “Setan Merah” tiba-tiba menang dan menjadi juara Eropa.

Maka dari itu, termasuk dari pengalaman itu, Fergie memang tak punya alasan untuk tidak memberi selamat pada City atas keberhasilan mereka menjadi juara lewat cara yang sangat dramatis tersebut.

"Saya ingin mengatakannya atas nama Manchester United, selamat bagi tetangga kami," ucapnya."Ini memang akhir yang kejam. Tapi, saya sudah mengalaminya selama 25 tahun terakhir. Ini juga merupakan musim yang dinamis."

Di akhir episode, fans MU harus merelakan gelar yang mereka menangi musim lalu itu, gelar yang sudah mereka koleksi sebanyak 19 kali, kali ini berpindah ke klub terdekat dengan mereka itu. Malam ini dan besok kota mereka pasti tidak keberatan bahwa kota Manchester dikuasai oleh “tetangga yang berisik” itu.

Dan City, mereka sangat berhak untuk “berisik” dan pantas merayakan apa yang baru saja mereka capai: titel pertama dalam 44 tahun, atau gelar ketiga semenjak klub itu lahir di tahun 1878.
Source